Pemprov DKI soal Gedung Slipi Roboh: Karena Terlalu Rapuh

92
Satu unit gedung ruko berlantai 4 ambruk di Jalan Brigjen Katamso, Slipi, Jakarta, Senin, 6 Januari 2020. Tiga orang dilaporkan terluka akibat tertima material bangunan. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Jakarta, Buananews.com — Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan (Citata) DKI Jakarta menduga gedung di daerah Slipi, Jakarta Barat roboh karena kualitas bangunan yang buruk. Kepala Dinas Citata DKI Heru Hermawanto menjelaskan pihaknya belum pernah melihat runtuhan bangunan seperti Gedung Slipi tersebut.

“Kalau kita lihat sepintas dari ini nih kualitas bangunan ini kayaknya terlalu rapuh,” kata Heru saat dihubungi, Senin (6/1).

Menurutnya, hal ini bisa dilihat dari konstruksi bangunan yang terlihat keropos. Heru juga menambahkan sepintas terlihat ada beton yang terkelupas dan kerangka dari bangunannya yang terlihat turut ambles.

“Dari tulangannya demikian ambrolnya. Sepintas ya dari hasil ini media banyak itu, kalau lihat, tulangannya sampai keluar semua,” ungkap dia.

Secara teknis, Heru mengungkapkan bahwa Dinas Citata biasanya mengecek bangunan dengan cara mengambil sampel beton dari bangunan. Dari hasil pengecekan tersebut kondisi beton dinyatakan baik sehingga dikeluarkan Sertifikat Layak Fungsi (SLF).

“Tugas pemerintah itu memastikan prosedurnya dipenuhi. Di situ ada kontraktornya ada enggak, kontraktornya harus memiliki data usahanya ada enggak, kan gitu. Ya kalau prosedural, makanya diterbitkan izin, makanya secara prosedural sudah,” kata dia.

Heru mengatakan pengecekan tersebut sesuai UU Nomor 2 tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi. Di dalam UU tersebut juga terdapat sanksi bagi swasta yang terbukti tidak memperhatikan konteks pengawasan.

“Di dalam undang-undang jasa konstruksi, siapa yang melakukan pengawasan, ada namanya konsultan pengawas. Maka si pemilik wajib menunjuk konsultan pengawas. Jika tidak bisa dikenakan sanksi,” jelas dia.

Heru menyatakan ke depan pihaknya akan mengingatkan para pengusaha untuk lebih memperhatikan kualitas bangunan. Diakui Heru banyak pemilik yang sepele terhadap konstruksi bangunan empat lantai.

“Penggunaan empat lantai itu kadang-kadang disepelein. Kalau gedung tinggi mungkin pemilik akan menunjuk lebih hati-hati kurang lebih,” beber dia.

Jika kasus ini sampai memakan korban jiwa, Heru mengatakan polisi bisa melakukan penyelidikan. Setelahnya Dinas Citata juga bisa masuk untuk mencari tahu penyebab robohnya bangunan.

“Nanti dicek lagi konsultannya bekerja sesuai dengan ini (aturan) enggak. Karena agak aneh sih itu bangunannya sampai depannya terkelupas besinya. Kalau betonnya pekerjaan bagus enggak mungkin terkelupas begitu,” tutup dia.

 

Polisi Alihkan Lalu Lintas

Sementara itu, polisi menerapkan pengalihan arus lalu lintas di sekitar lokasi robohnya bangunan.

“Ada pengalihan arus di sekitar lokasi,” kata Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Fahri Siregar saat dikonfirmasi, Senin (6/1).

Disampaikan Fahri, kendaraan dari arah Jalan S Parman menuju Tanah Abang ditutup dan dialihkan lurus menuju Simpang Slipi. Kemudian, Jalan Brigjen Katamso juga dilakukan penutupan. Namun, untuk kendaraan dari arah Tanah Abang menuju Kemanggisan masih bisa melintas Jalan Brigjen Katamso.

Sebelumnya, Sebuah bangunan di Jalan Brigjen Katamso, Kelurahan Kota Bambu, Palmerah, Slipi, Jakarta Barat roboh pada Senin (6/1).

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan insiden bangunan roboh tersebut terjadi sekitar pukul 09.10 WIB.

“Awal mula kejadian sekira pukul 09.10 WIB gedung mulai roboh pada bagian lantai 3 kemudian ke lantai 2 dan lantai 1,” kata Yusri dalam keterangannya.

kata Yusril tiga orang mengalami luka. Ia juga memastikan tidak korban tewas dalam insiden tersebut. “Data sementara korban jiwa nihil, hanya tiga orang luka dan untuk kerugian materiil masih dalam proses penghitungan,” ujarnya. (ctr/dis/ain/CNNIndonesia)