Memepelai Pria Kehilangan Harapan Setelah Pesta Pernikahannya Dibom

53

Afganistan, Buananews.com – Mempelai pria yang pesta pernikahannya menjadi sasaran serangan bom bunuh diri di ibu kota Afganistan, Kabul, mengaku telah “kehilangan harapan”.

Dalam wawancara di televisi, Mirwais Elmi mengatakan istrinya selamat namun saudara laki-lakinya dan kerabatnya yang lain termasuk dalam 63 orang yang tewas dalam serangan pada hari Sabtu (17/08) itu.

Kelompok yang menyebut diri mereka Negara Islam mengaku sebagai pelaku pengeboman, yang juga melukai lebih dari 180 orang.

Presiden Ashraf Ghani menyebut serangan itu “barbar”.

Ia menyalahkan Taliban karena “menyediakan platform bagi teroris”. Taliban, yang sedang terlibat dalam perundingan damai dengan AS, mengecam serangan tersebut.

Dalam wawancara dengan Tolo News, Mirwais Elmi mengingat-ingat saat ia menyapa para tamu di aula pernikahan yang padat kemudian menyaksikan tubuh mereka diangkut keluar beberapa jam kemudian.

“Keluarga saya, istri saya syok, bicara saja mereka tidak bisa. Istri saya pingsan-pingsan terus,” ujarnya.

“Saya kehilangan harapan. Saya kehilangan saudara laki-laki saya, saya kehilangan kawan-kawan saya, saya kehilangan kerabat saya. Saya tidak akan menemukan kebahagiaan lagi dalam hidup saya.

“Saya tidak bisa menghadiri pemakaman [mereka], saya merasa sangat lemas … Saya tahu ini bukan penderitaan terakhir bagi warga Afganistan, penderitaan akan berlanjut,” imbuhnya.

Ayah pengantin wanita berkata kepada media Afganistan bahwa 14 anggota keluarganya tewas dalam serangan ini.

Apa yang terjadi?

Dalam sebuah pernyataan, kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) mengatakan salah seorang petarungnya meledakan diri di satu “pertemuan besar” sementara yang lainnya “meledakan kendaraan yang sedang diparkir” ketika petugas tanggap darurat tiba.

Serangan tersebut terjadi di distrik yang sebagian besar dihuni oleh Muslim Syiah.

Militan Muslim Sunni, termasuk Taliban dan ISIS, telah berkali-kali menyasar kelompok minoritas Syiah Hazara di Afganistan dan Pakistan.

Pemakaman massal setelah serangan bom bunuh diri di Kabul, Afganistan, 18 Agustus 2019.Hak atas fotoREUTERS
 Pemakaman bagi para korban ledakan bom telah diadakan.

Berbicara dari atas ranjang rumah sakit, salah seorang tamu pesta pernikahan, Munir Ahmad (23) mengatakan sepupunya termasuk korban yang tewas.

“Para tamu menari dan merayakan pernikahan ketika ledakan terjadi,” ujarnya kepada kantor berita AFP.

“Menyusul ledakan, terjadi kekacauan total. Semua orang berteriak dan menangisi orang-orang yang mereka sayangi.”

Pesta pernikahan di Afganistan biasanya digelar di aula besar, dengan tamu laki-laki dipisahkan dari tamu perempuan dan anak-anak.

Bagaimana reaksi terhadap peristiwa ini?

Menulis di Twitter, Presiden Ghani mengatakan ia telah mengadakan pertemuan keamanan untuk “meninjau dan mencegah kecolongan keamanan seperti ini.”

Kepala eksekutif Afghanistan, Abdullah Abdullah, menyebut serangan tersebut “kejahatan terhadap kemanusiaan” dan duta besar AS untuk Afghanistan, John Bass, menyebutnya tindakan “kebobrokan ekstrem”.

Seorang juru bicara Taliban mengatakan kelompok itu “sangat mengutuk” serangan itu.

“Tidak ada pembenaran untuk pembunuhan yang disengaja dan brutal seperti itu, dan menyasar perempuan dan anak-anak,” kata Zabiullah Mujaheed dalam sebuah pesan teks kepada media.

Bagaimana perkembangan perundingan damai di Afganistan?

Perwakilan Taliban dan AS telah mengadakan perundingan di ibukota Qatar, Doha, dan kedua belah pihak melaporkan kemajuan.

Pada hari Minggu, Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada wartawan di New Jersey bahwa perundingan berjalan dengan baik.

“Kami melakukan diskusi yang sangat baik dengan Taliban. Kami melakukan diskusi yang sangat baik dengan pemerintah Afghanistan,” ujarnya.

AS menempatkan sekitar 14.000 tentara di Afghanistan dan merupakan bagian dari misi NATO di sana. Sejak awal kepresidenannya, Trump mengungkapkan keinginan untuk menarik pasukan AS dari negara tersebut.

Kesepakatan hasil perundingan akan mencakup penarikan pasukan AS secara bertahap, dan sebagai gantinya jaminan Taliban bahwa Afghanistan tidak akan digunakan oleh kelompok-kelompok ekstremis untuk menyerang AS.

Taliban juga akan memulai perundingan dengan delegasi Afghanistan tentang kerangka kerja untuk perdamaian, yang termasuk gencatan senjata pada akhirnya. Para militan telah menolak untuk bernegosiasi dengan pemerintah Afghanistan sampai jadwal untuk penarikan tentara AS disetujui.

Taliban sekarang mengendalikan lebih banyak wilayah sejak mereka dijatuhkan dari kekuasaan pada tahun 2001. (cnnindonesia.com)