Kerusuhan di Papua, Empat Tewas

41
Jayapura, Buananews.com  – Insiden kerusuhan terjadi Ekspo Waena, Kota Jayapura, Senin (23/9). Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Provinsi Papua, Aloysius Giyai, mengungkapkan ada empat korban meninggal dunia akibat insiden tersebut. Saat ini seluruh korban jiwa sudah dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara.
Dari keempat korban meninggal tersebut, satu di antaranya anggota TNI dari Batalyon 751 Sentani dan tiga lainnya warga sipil.
“Korban yang berjatuhan ini diduga berasal dari insiden di daerah Ekspo Waena, Kota Jayapura,” kata Aloysius, kepada sejumlah wartawan saat ditemui di Rumah Sakit Bhayangkara, Kotaraja, Kota Jayapura, Papua, Senin (23/9).
Insiden di daerah Ekspo Waena, Kota Jayapura, itu akibat adanya bentrok antara para mahasiswa eksodus atau mahasiswa asal Papua yang kembali dari berbagai kota di luar Papua dengan aparat keamanan setempat pada pukul 12.00 WIT, Senin (23/9).
Insiden ini bermula sekitar pukul 07.00 WIT, Senin pagi (23/9). Sekitar 500 mahasiswa “pulang kampung”–mahasiswa eksodus Papua–membuat Posko Mahasiswa Eksodus di Kampus Universitas Cenderawasih (Uncen), Abepura, Kota Jayapura.
Tapi pukul 11.30 WIT, aparat TNI-Polisi membubarkan kegiatan ini dan mengantarkan para mahasiswa ini menggunakan sejumlah truk dan bus ke daerah Ekspo Waena yang berjarak kurang lebih 5 kilometer dari Kampus Uncen.
Namun sesampainya di Ekspo Waena dan hendak turun dari mobil, aparat keamanan diserang mahasiswa. Akibatnya bentrok antara para mahasiswa dengan aparat TNI-Polri tak terhindarkan. Empat orang meninggal dunia dan sejumlah orang luka-luka.
Menurut Aloysius, pihaknya telah berkoordinasi dengan seluruh rumah sakit di Kota Jayapura, seperti Rumah Sakit Dian Harapan, Rumah Sakit Dok II Jayapura dan Rumah Sakit Marthen Indey, guna membantu penanganan korban bentrok Ekspo Waena, Kota Jayapura.
“Intinya, semua rumah sakit di Kota Jayapura siap melakukan penanganan korban. Yang sudah meninggal tetap di Rumah Sakit Bhayangkara untuk identifikasi, sedangkan yang dalam kritis sudah ditangani,” kata Aloysius.
Aloysius juga mengiyakan, para korban luka-luka saat ini sudah dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara, namun tak menutup kemungkinan jumlahnya akan bertambah. “Yang sudah di dalam (Rumah Sakit Bhayangkara) ada 10 orang, mulai dari luka berat dan luka ringan,” jelas Aloysius.
Sementara itu, untuk kerusuhan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, pada Senin (23/9), Aloysius menyampaikan, pihaknya sedang berupaya mengirim tim bedah untuk membantu penanganan medis di Wamena, Kabupaten Jayawijaya.
“Kami juga sudah koordinasikan dengan AU untuk dikirimkan tim dokter bedah ke Wamena karena semakin banyak korban di UGD rumah sakit setempat. Memang di Wamena, bandara sementara tutup, tapi semoga dalam waktu dekat pesawat sudah bisa mendarat. Sehingga tim bedah bisa dikirim untuk menangani pasien di sana,” kata Aloysius.
Gubernur Papua Lukas Enembe saat berikan keterangan pers terkait insiden Ekspo Waena. (Pratiwi)
Gubernur Minta Mahasiswa Tak Ganggu Keamanan Papua
Gubernur Papua, Lukas Enembe, mengaku juga sudah mendapatkan informasi adanya korban jiwa dalam insiden di daerah Ekspo Waena. Lukas menyebutkan mahasiswa eksodus ingin dirikan Posko Mahasiswa Eksodus di Uncen, tapi dipulangkan aparat keamanan ke arah Ekspo Waena.
“Setelah tiba di daerah Ekspo Waena, massa malahan bentrok dengan aparat keamanan. Saya dapatkan informasi ada TNI meninggal dunia dalam kasus ini. Juga ada dari masyarakat juga korban. Tapi kami belum tahu jumlah korban untuk perkembangan selanjutnya,” kata Lukas, saat beri keterangan pers di Gedung Negara, Kota Jayapura, Senin (23/9).
Menurut Lukas, penyelesaian kasus mahasiswa eksodus ini terus ditindaklanjuti, bahkan dirinya telah menyurati mahasiswa eksodus ini untuk dapat berkomunikasi dengan pemerintah. “Hasilnya, mahasiswa eksodus ini tak mau bertemu saya sebagai Gubernur Papua dan wakil pemerintah. Lalu mau mereka apa?” kata Lukas.
Lukas memastikan, mahasiswa eksodus yang tak mau bertemu dengan pemerintah, lalu berdampak pada aksi insiden Ekspo Waena di Kota Jayapura, Senin (23/9).
“Saya minta kepada mahasiswa menghentikan semua kegiatan yang bersifat mengganggu keamanan masyarakat di Papua. Jika memang mereka mahasiswa, silahkan kembali ke kota studi dan fasilitas itu akan kami siapkan,” ujar Lukas. (kumparan.com)