Bos yang Tak Berani Perintah Bawahan

22

Oleh Ismetri Rajab

Jabatan struktural pertama saya sebagai wartawan adalah redaktur minggu. Di Harian Sriwijaya Post, edisi minggu adalah edisi khusus. Pengelolaan dibedakan dengan harian. Jadi, seperti koran mingguan. Redaktur minggu, seakan-akan rasa pemimpin redaksi. Diserahi mengelola sendiri, dengan dibantu beberapa orang personil.

Tentu saja tak ada terbayang sebelumnya saya akan secepat itu menjadi seorang redaktur. Masuk kerja dari tahun 1987, semula sebagai karikaturis lalu jadi wartawan tulis. Dua tahun saja jadi jurnalis yang bidang liputannya kriminalitas, tahun 1990 sudah jadi redaktur. Padahal untuk bisa menjadi wartawan yang “bisa” bekerja, setidaknya harus melewati lima tahun terlebih dahulu. Itu kata senior-senior yang sudah bulukan di bidang jurnalistik.

Saya diserahi jabatan redaktur minggu disebabkan sebuah “kecelakaan” dalam manajemen koran tempat saya bekerja. Para senior yang sebelumnya punya jabatan struktural disertai sejumlah wartawan, keluar dari koran Sripo. Mereka ramai-ramai pindah ke Harian Pelita manajemen baru yang disuntik modal oleh pengusaha Aburizal Bakrie. Yang hengkang itu mulai dari Wakil Pemimpin Redaksi Zaili Asriel, barisan redaktur ada Arie F Baubara, dan Suwidi Tono ditambah sejumlah wartawan. Bekerja di Jakarta tentu lebih memikat hati mereka dibanding di Palembang.

Jabatan yang ditinggalkan oleh para senior tadi tentu harus diisi. Maka, yang dibawah terkerek ke atas. Sejumlah nama baru yang diambil dari wartawan jadi redaktur. Sementara jabatan Wakil Pemimpin Redaksi yang mengelola sehari-hari Sripo didatangkan dari Kompas Jakarta, Moch S Hendroyuwono.

Saya sendiri jadi redaktur minggu semula hanya sebagai pengganti saja. Karena redaktur minggu yang ditunjuk tak becus dengan pekerjaannya. Kerja malam minggu malah pergi pacaran. Pulang-pulang sudah malam. Sehingga kerap deadline Koran Minggu terlanggar. Terlambat terbit.

Ketika diangkat jadi redaktur minggu, saya punya tim inti, antara lain Drs. H. Dheni Kurnia, Ir. Yusran Hakim dan Dra. Theresia Juita. Terpilihnya atau dipilihnya tiga nama itu ada kisahnya masing-masing.

Dheni Kurnia di atas kertas sebenarnya atasan saya. Dia menjabat Wakil Redaktur Pelaksana, yang membawahi dan supervisor redaktur. Redaktur Pelaksana kala itu adalah Abang Abadi Tumanggung.

Tapi Dheni saat itu dianggap “kusta”, orang yang harus dijauhi. Dia sebenarnya anggota “geng” yang hengkang. Apalagi dia sangat dekat dengan Zaili Asriel. Berembus kabar kala itu bahwa dia sengaja ditinggal dulu untuk menggalang eksodus kedua.

“Aku memang ditawari ikut. Tapi aku gak mau jadi bayang-bayang terus,” kata Dheni kepada saya saat kami sama-sama kerja di Jakarta beberapa tahun kemudian. “Tanpa harus ikut, akhirnya kita tugas di Jakarta juga kan kiah,” katanya lagi.

Soal Dheni, Mas Hendro memanggil saya. “Apakah Ismet bersedia menerima Dheni di mingguan?”
“Siap mas.”
Maka jadilah tim Bang Dheni Kurnia.

Yusran Hakim lain lagi ceritanya. Karikaturis tamatan Fakultas Pertanian Unsri ini orang cerdas yang merasa “buntu” di liputan harian. Jadinya malas-malasan bekerja. Cilakanya dia terlanjur dicap “trouble maker”, gelar yang dilekatkan oleh Valens G Doy ke sejumlah rekan wartawan yang pintar dan kreatif dan sering protes.

Dia antusias ketika saya ke mingguan saja. Kerjanya santai, tak perlu dikejar-kejar deadline dan liputan setiap hari. Yusran memegang sejumlah rubrik.

Sementara Theresia Juita atau Mbak Thress adalah disainer Harian Sriwijaya Post, redaktur tata wajah. Tamatan Seni Rupa Universitas Tri Sakti ini punya kemampuan sebagai penulis dan redaktur. Maka jadilah Mbak Thres penanggung jawab rubrik kewanitaan, kecantikan dan juga halaman anak-anak.

Satu lagi kru Minggu adalah Mouthalib Adams, Redaktur Pelaksana Sriwijaya Post pertama, yang bertanggungjawab mengelola halaman TTS dan Kontak Jodoh. Anomali sekali, Da Mutholib, justru berjodoh ketika usia sudah tua. Satu lagi masuk tim minggu adalah Valens Zebua, manajer produksi yang suka menghempaskan kamus tebal, kalau kepala mumet. Tak bisa marah kepada kru pracetak, yang adik dan ponakannya sendiri.

Dengan kru yang semua lebih tua, lebih berpengalaman dan lebih pintar menjadikan tim work enak. Pekerjaan selesai dengan hasil yang memuaskan. Paling tidak enaknya, adalah saya menjadi menjadi “bos yang tak berani memerintah bawahan”.

Maka kalimat-kalimat yang keluar adalah dari saya adalah “tolong”, “mak manolah kalau kito”, dan sebagainya. Sekali-sekali tak pernah ada keluar kalimat “gawekan ini”. Pasti kualat.

Pasti Dheni Kurnia akan berkata, “Ang moyoang dalam sirawa den lah moyoang ndak basirawa” (sirawa = celana, moyoang = kencing)

Dan Dheni Kurnia sebenarnya bukan “kusta” tapi “magnet”. Kehebatan Dheni berbagi joke, berbagi rezeki lalu jadi toke bogor (biar tekor asal kesohor, dan bikin heran duitnya ada terus entah dari mana asalnya), membuat tim mingguan jadi tim diinginkan kawan-kawan. Banyak yang kemudian minta bergabung masuk tim minggu. Sesuatu yang tak mungkin dikabulkan.

Rubrik Aneh Aneh

Diserahi mengelola Koran Mingguan, kami mengadakan rapat membahas tampilan, isi dan target minggu. Dicapai kesepakatan edisi minggu akan tampil beda, lebih fresh, lebih enak dan lebih menarik. Bahkan ditanamkan tekad edisi minggu oplahnya harus lebih tinggi dari harian. Kala itu edisi minggu, selisih dua ribuan dari harian. Kalau haris 25 ribu eksemplar, mingguan 22 sampai 23 ribu saja.

Untuk membuat menarik, tata wajah minggu kami ubah. Di halaman depan dimuat foto lebih besar. Ada liputan utama. Disamping berita-berita news. Tampilan keren. Apalagi Sripo dapat tambahan fotograger Luax Mawardi yang sebelumnya biasa mengkodak artis-artis saat menjadi fotografer tabloid Monitor. Foto-foto gadis-gadis Palembang menjadi bikin “lher” ditangan Luax.

Jika berita-berita harian mengutamakan sisi penting (berita-berita vertikal), Mingguan kami prioritaskan sisi-sisi menarik. Jadi tampilklah rubrik-rubrik unik di Koran Mingguan. Di Halaman Belakang, kami tampilkan antara lain liputan ringan tapi lucu. Misalnya tentang deretan pria berkumis lebat, atau orang yang gemuk sembari menenteng timbangan yang jebol.

Rubrik fenomenal adalah rubrik yang melibatkan pembaca, yaitu meramal tanda tangan, atau masuk dalam ilmu grafology. Pembaca mengirim nama dan tanda tangan, lantas dikomentari oleh ahli membaca tanda tangan tersebut. Rubrik ini sangat menarik, sehingga ratusan kartu post datang setiap pekan, sehingga pemuatannya harus diantri.

Dengan tampilan dan liputan ini, Sriwijaya Post Minggu, meninggalkan Sriwijaya Post Harian dalam jumlah oplah. Tiap pekan kenaikan itu dicatat rapi oleh Yusran Hakim di tiang tembok dekat tempat duduknya.

Bahkan, melejitnya Sriwijaya Post Minggu, sampai meninggalkan oplah edisi harian sebanyak 10 ribu. Selisih yang jauh.

Meningkatnya oplah minggu salah satunya juga didukung promosi. Hari Sabtu sudah diterbitkan apa yang akan ditampilkan Sriwijaya Post Minggu. Yang dimaksudkan menjadi daya tarik pembaca. Dan ternyata, agen-agen memang meminta jatah kenaikan pemesanan koran.

Soal oplah ini ada cerita lucu di kalangan kami. Yaitu Dheni, Yusran dan saya bersepakat bahwa kami akan membotakkan kepala kalau oplah Sriwijaya Post Minggu tembus 40 ribu. Dan dilala, pada akhir 1990 Srwijaya Post Minggu sudah mendekatinya.

Kala oplah benar-benar menembus 40 ribu, kami minta ke sirkulasi agar dicetak 39999 saja. Biar tak jadi membotakkan kepala tentunya.

Saya tak tahu apakah karena memungkiri janji itu menjadi mala petaka bagi Dheni dan Yusran kemudian hari. Sebab kini kepala keduanya plontos. Yang mereka bangga memamerkannya, karena dalam rubrik unik minggu dulu adalah lipuran “Botak itu Seksi…”